Rien Asmara Situmorang adalah seorang perempuan yang dulunya pernah mengalami kekerasan dari suami yang dimana suami dari Rien adalah pemabuk keras dan tidak suka diberi nasehat. Bila suaminya sedang marah dia akan segera menampar Rien, mengucapkan kata-kata kasar, dan tidak merasa peduli dengan kondisi Rien. Suami Rien menganggap bahwa perempuan itu lemah, dan sering membuat emosi karena perempuan dianggap cerewet. Itu sebabnya dia melakukan tindakan-tindakan kasar kepada istrinya sendiri. Berikut kisah dari Rien yang berhasil melewati KDRT dan mengubah karakter suaminya setelah mengenal CU.
Berbicara mengenai perempuan, saya sangat bersemangat sekali karena banyak yang masih memandang bahwa perempuan adalah mahluk yang lemah dan tidak dapat berdiri sendiri apalagi di lingkungan kita yang semua hal dipengaruhi dengan adat-istiadat. Sebelumnya perkenalkan nama saya Rien Asmara Situmorang, umur saya 36 tahun, alamat Dolok Sanggul. Saya bergabung menjadi anggota CU sejak tahun 2016 di unit Sibundong 2 wilayah Humbang Hasundutan, dan saya terpilih menjadi pengurus unit sejak tahun 2020. Pekerjaan saya petani dan pekerjaan sampingan saya sebagai penjahit, terkadang saya pergi ke pasar untuk menjual hasil pertanian saya. Saya memiliki tiga orang anak, dan ketiganya adalah perempuan.
Dalam suku Batak yang mewariskan marga adalah laki-laki sehingga beberapa orang meminta agar suami saya menikah lagi. Hal ini menyebabkan timbulnya ketakutan dalam diri saya karena hanya memiliki tiga putri. Namun saya merasa beruntung, karena suami saya tidak membedakan anak perempuan dan laki-laki, dia tidak mengurangi kasih sayangnya kepada semua anak-anak kami, dia juga tidak memikirkan perkataan-perkataan orang yang sering menggodanya dengan bahasa “anakmu perempuan semua ya”. Hal ini terjadi karena suami saya ikut mengenal CU, PESADA, dan beberapa kali mengikuti pertemuan KSR (Kesehatan Seksual & Reproduksi).